Sukses! Sepakbola Jadi Sarana Promosi Brand Minuman Ini

Derby New York telah dilangsungkan selama dua kali di musim ini. Dalam laga lanjutan Major League Soccer (MLS) yang merupakan kasta tertinggi sepakbola di Amerika Serikat itu. New York City yang sejatinya tampil di depan para pendukungnya, harus kembali mengakui kehebatan rivalnya New York Red Bulls.

Derby New York

Derby New York jadi pasar bagi Red Bull

Pertemuan kedua yang berlangsung pada tanggal 28 April lalu dapat dikatakan lebih besar dibandingkan pertemuan pertama. Laga yang berkesudahan 1-3 tersebut ditonton langsung oleh 48 ribu penonton yang datang memadati Yankee Stadium. Catatan itu hampir dua kali catatan dari pertemuan pertama derby New York.

Pertandingan tersebut juga mencatatkan sejarah tersendiri. Dimana jumlah penonton laga itu menjadi yang ketiga dalam catatan penonton terbanyak di buku sejarah MLS.

Red Bull Secara Perlahan Semakin Mendunia

Di sisi lain, kemenangan yang berhasil diraih oleh Red Bulls dengan disaksikan 48 ribu penonton itu memiliki makna yang lebih dari sekedar pertandingan. Selain membuat klub yang bermarkas di Stadion Red Bull Arena ini naik ke peringkat keempat dalam tabel klasemen sementara wilayah timur. Ternyata hasil itu juga meningkatkan penjualan minuman berenergi.

Red Bull

Red Bull, brand minuman berenergi

Red Bull sejatinya merupakan nama dari sebuah perusahaan yang memproduksi berenergi. Dietrisch Mateschitz merupakan seorang pengusaha yang mendirikan perusahaan ini di tahun 1987.

Memang merek Red Bull ini tidak setenar Coca-Cola yang saat ini menjadi merk minuman termahal di dunia. Akan tetapi, secara perlahan, merk dagang Red Bull ini semakin meluas di seluruh dunia. Bahkan kini, produk Red Bull telah tersebar di lebih dari 164 negara dengan nilai yang ditaksir mencapai angka 11,86 miliar dolar AS.

Tentu, nilai sebesar itu masih jauh dari angka milik Coca-Cola yang dimana menyentuh angka 70 miliar dolar. Meski begitu, nilai yang dimiliki oleh Red Bull saat ini, menempatkan mereka di urutan ketiga sebagai merk minuman energi termahal di dunia. Bahkan, mereka berada di peringkat pertama dalam minuman berenergi termahal di dunia.

Pencapaian tersebut tentu tidak terlepas dari strategi pemasaran yang tepat, walaupun mereka masih dapat dibilang berusia muda. Bandingkan dengan merek Coca-Cola yang telah berdiri lebih dari 100 tahun lamanya. Dan sepakbola menjadi faktor pemasaran tepat bagi Red Bull dalam meningkatkan angka penjualan.

Red Bull Dan Olahraga Sepakbola

Sepakbola menjadi alat utama bagi Red Bull dalam memasarkan produknya. Langkah tersebut ternyata sudah dilakukan oleh Red Bull sebelum pihaknya mengakusisi penuh tim kesebelasan New York atau New Jersey Metrostars di tahun 2006 lalu.

Red Bull

Red Bull dan sepakbola

Tak hanya dilakukan di tanah Amerika, tetapi mereka juga melakukan langkah serupa di daratan Eropa dengan membeli kepemilikan penuh tim asal Austria, SV Austria Salzburg. Dan klub tersebut berganti nama menjadi FC Red Bull Salzburg.

Merambah ke tanah Afrika, Red Bull membuat langkah berbeda dengan mendirikan klub baru bernama Red Bull Ghana pada tahun 2008. Hanya berselang satu tahun saja, dua klub kembali lahir dengan masing-masing nama Red Bull Liepzig di Jerman dan Red Bull Brasil.

Langkah tersebut tentu saja bertujuan untuk meningkatkan pemasaran Red Bull di negara yang bersangkutan. Hal itu senada dengan pernyataan sang bos besar Red Bull. “Apabila kita tidak memiliki pasar, maka kita sendiri yang akan menciptakan pasar tersebut,” ungkap Dietrich Mateschitz.

Namun ternyata cara tersebut (mengakusisi tim kesebelasan sepakbola) mendapat perlawanan dari beberapa kalangan. Seperti yang terjadi di Salzburg, dimana para penggemar setia tidak setuju dengan penggantian nama klub, stadion dan bahkan warna jersey.

Tapi dibalik itu, Red Bull tetap memberikan keuntungan yang besar dari segi finansial bagi klub yang mereka akusisi.

Comments are closed.