Fantastis! Teknologi The Footbonaut Dalam Dunia Sepakbola

Pada ajang Liga Champions musim 2012/2013, para penggemar sepakbola di seluruh dunia. Dikejutkan dengan keberhasilan Borussia Dortmund yang sukses melangkah ke babak final. Raksasa Bundesliga Jerman itu berhasil mengalahkan Real Madrid di babak semifinal dengan agregat akhir 4-3. Namun sayangnya, tim berjuluk Die Borussen itu harus takluk oleh sang rival, Bayern Munich di partai puncak.

Footbonaut

Footbonaut menjadi salah satu teknologi dalam dunia sepakbola

Terlepas dari hasil akhir tersebut, Dortmund secara perlahan membuktikan bahwa mereka menjadi salah satu penantang terbesar di Eropa. Prestasti tersebut juga tidak terlepas dari proses panjang sejak Jurgen Klopp menangani Dortmund di tahun 2008 lalu.

Ternyata, rahasia besar tim yang bermarkas di Signal Iduna Park itu dalam melancarkan serangan balik cepat dan operan kilat adalah penggunaan teknologi bernama Footbonaut. Teknologi tersebut berperan penting dalam membina dan meningkatkan kualitas para pemain yang secara keseluruhan mempengaruhi tim.

Apa Itu Teknologi The Footbonaut?

Lantas apa itu Footbonaut? Adalah sebuah mesin yang berhasil meningkatkan teknik para pemain ketika berada di atas lapangan. Adapun cara kerjanya dari mesin tersebut adalah seorang pemain akan menerima bola operan yang keluar dari mesin pelontar. Kemudian pemain itu harus dengan cepat melakukan operan ke bagian kotak yang tengah menyala. Terdapat 64 kotak dengan warna yang berbeda-beda dalam teknologi footbonaut itu (berbentuk kubus).

Footbonaut

sebuah mesin yang berhasil meningkatkan teknik para pemain ketika berada di atas lapangan

Apabila kotak menyala dengan berwarna hijau, maka itu artinya kotak tersebut tengah menunggu bola. Sedangkan jika berwarna kuning, maka pemain yang bersangkutan sudah terlalu lama untuk menemukan dan melakukan tendangan ke arah kotak yang sebelumnya berwarna hijau tersebut.

Teknologi seharga US$ 3,5 juta ini dilengkapi dengan mesin pelontar yang mampu melontarkan bola dengan kecepatan 60 hingga 120 kilometer per jam ke arah pemain. Sehingga, pemain dituntut harus mampu mengontrol bola tersebut menggunakan dada, kepala atau kedua kakinya. Berada di dalam kotak kubus tersebut selama 15 menit, tidak kurang lebih dari 200 bola harus mampu dikendalikan oleh pemain.

Tujuan utama dari penerapan teknologi tersebut dalam latihan tim adalah demi meningkatkan kualitas setiap individu. Selain itu, juga untuk meningkatkan stamina, kecepatan dan presisi serta visi pemain untuk dengan cepat melakukan operan.

Terdapat sekitar 1500 sensor yang tersebar di seluruh bagian dalam teknologi tersebut. Sensor tersebut berguna untuk mencatat setiap gerak, kecepatan, arah dan juga kondisi tubuh dari pemain yang bersangkutan itu.

Chrisitan Guettler, Sang Penemu The Footbonaut

Chrisitan Guettler merupakan seorang yang berhasil menciptakan teknologi bernama footbonaut ini. Sang penemu mengungkapkan bahwa dengan melakukan latihan selama 15 menit di dalam kubus, setara dengan porsi latihan pemain dalam jangka waktu sepekan.

The Footbonaut

Footbonaut memiliki 1500 sensor

“Disini (berada di dalam kubus) setiap pemain akan menerima umpan dari mesin pelontar sebanyak yang mereka terima selama melakukan latihan dalam sepekan,” ungkap Guettler.

Guettler lantas mencontohkan, Xabi Alonso yang kala itu menjadi pengatur serangan Real Madrid membutuhkan kurang lebih selama tiga jam untuk menerima dan melesahkan sebanyak 200 operan ke arah pemain lain. Dan apabila Alonso berlatih dengan menggunakan footbonaut, hanya membutuhkan waktu sebanyak 15 menit.

“Umpan yang dilesahkan secara terus menerus dan konstan dalam waktu yang cepat, dapat meningkatkan akurasi, naluri dan respons dari seorang pemain. Tidak hanya itu, tingkat konsentrasi dan stamina juga akan meningkat. Sehingga membuat pemain jauh lebih produktif ketika berada di atas lapangan,” tutup Guettler.

Masa Sih Teknologi VAR Itu Bikin Ribet

Alkisah sekumpulun ibu-ibu rumah tangga yang sedang asik menyaksikan acara televisi pada prime time (jam 7 – 9 malam).  Sinetron menjadi tayangan utama di hampir seluruh televisi nasional. Antara sinetron di salah satu televisi dengan televisi lainnya dapat dikatakan hampir seragam. Dimana selalu menceritakan tentang seorang tokoh antagonis berparas cantik yang menyiksa tokoh protagonis.

Video Assistant Referee

Video Assistant Referee merupakan teknologi terbaru di dunia sepakbola

Tidak sedikit dari para ibu-ibu yang asik menonton sinetron tersebut merasa kesal akan tokoh antagonis yang selalu membuat tokoh protagonis menderita. Mungkin sekelumit ide ibu-ibu menyiratkan akan adanya harapan teknologi dunia pertelevisian di masa depan yang memungkinkan para penonton terlibat langsung. Sehingga dengan kata lain, mereka ibu-ibu dapat menentukan alur cerita dari sinetron yang mereka tonton.

Dapat dikatakan masih jauh dari realistis mengenai suatu teknologi yang memungkinkan untuk para penonton terlibat secara langsung dengan acara yang tengah ditampilkan melalui layar kaca. Interaksi antara penonton dengan siaran suatu acara televisi hanya terjadi ketika acara itu merupakan kuis-kuis. Biasanya kuis selalu hadir pada acara-acara sahur dan berbuka puasa. Umumnya interaksi terjadi melalui jaringan telepon ataupun media sosial.

Akan tetapi tidak seperti yang terjadi pada dunia sepakbola modern saat ini. Video Assistant Referee (VAR) merupakan sebuah teknologi yang secara resmi telah ditetapkan pada beberapa turnamen resmi FIFA. Suatu teknologi yang menjadikan tiga orang ‘penonton’ dapat mempengaruhi hasil akhir dari sebuah pertandingan. Bahkan teknologi itu juga dapat memperlambat jalannya pertandingan yang tengah berlangsung.

Piala Konfederasi 2017 yang baru digelar pada tengah bulan Juni lalu merupakan ajang sepakbola resmi yang menggunakan teknologi bernama VAR. Selain turnamen tersebut diadakan untuk meninjau kesiapan Rusia yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia tahun 2018 mendatang. Ajang yang berhasil dimenangkan oleh Jerman itu juga menjadi salah satu ladang untuk melakukan uji coba penggunaan teknologi VAR. Dan hasilnya, FIFA menganggap bahwa teknologi itu sangat membantu wasit dalam menjalankan tugasnya.

Oh, Seperti Ini Ternyata Teknologi VAR

Membahas Video Assistant Referee, teknologi ini terdiri dari beberapa pengawas. Diantaranya yakni tiga wasit yang telah ditentukan secara resmi oleh FIFA. Namun tidak bertugas di atas lapangan, melainkan duduk manis di sebuah ruangan ber-AC. Sembari menyaksikan jalannya pertandingan melalui layar kaca. Dimana menampilkan beberapa titik sudut pandang kamera yang sulit untuk dijangkau oleh wasit di atas lapangan.

Video Assistant Referee

Wasit tengah melihat tayangan ulang video laga yang tengah berjalan

Apabila terjadi sebuah pelanggaran ataupun insiden lainnya yang tidak terlihat oleh wasit, maka secara langsung tiga wasit asisten itu akan menghubungi wasit yang bertugas dan memberikan pertimbangan tertentu dengan dibantu melalui tayangan ulang video. Kemudian hal itu akan ditindaklajuti oleh wasit dengan memberikan sebuah keputusan dari insiden yang terjadi.

Plus Minus Teknologi VAR

Penerapan teknologi semacam itu tentunya menghindari sejumlah keputusan wasit di atas lapangan yang kemungkinan berujung kontroversi. Dan teknologi Video Assistant Referee ini juga memperbaiki kinerja dari wasit yang tengah bertugas. Dengan kata lain, tidak ada satu tim yang merasa dirugikan akan beberapa keputusan wasit.

Video Assistant Referee

Wasit tengah berkomunikasi dengan tiga asisten wasit di ruang video

Namun di sisi lain, penerapan VAR ini membuat jalannya suatu pertandingan sepakbola menjadi bertele-tele. Dimana tidak, pasalnya VAR akan menghadirkan jeda waktu dalam suatu laga. Pasalnya, wasit utama akan terlebih dahulu berkomunikasi dengan tiga asisten yang berada di ruang video.

Walaupun jeda yang akan terjadi hanya hitungan menit, akan tetapi akan menghambat ritme pertandingan yang tengah berlangsung. Tentunya hal itu dapat merugikan tim yang tengah berusaha untuk mengejar ketertinggalan. Akan tapi, keputusan wasit nantinya jauh lebih ‘sempurna’.